Risiko Transfusi Darah: Infeksi

InfeksiPMI berperan melakukan kegiatan surveilans atau pengamatan terhadap kasus-kasus infeksi yang penularannya salah satunya karena transfusi darah, dengan melakukan skrining atau penapisan darah donor. Tujuan skirining ini adalah untuk mengamankan darah donor supaya bebas dari beberapa penyakit infeksi seperti pada Hepatitis B, Hepatitis C, Sifilis, Malaria, DBD, dan HIV/AIDS. Meskipun setiap orang diperiksa jika dia menderita infeksi yang mungkin ditularkan melalui darah, kadang bisa terjadi kesalahan dan darah yang terkontaminasi tersebut lolos uji periksa. Bagaimanapun, kejadian infeksi akibat dari darah yang ditransfusikan sangat jarang terjadi. Hal ini juga karena donor potensial disaring dengan pertanyaan tentang status dan perjalanan kesehatan mereka.

Infeksi juga bisa disebabkan oleh adanya kontaminasi bakteri. Trombosit adalah komponen darah yang paling mungkin mengalami kontaminasi bakterial. Oleh sebab itu, trombosit harus disimpan pada suhu kamar, karena bakteri dapat tumbuh dengan cepat. Menurut penelitian, sekitar 1 dari setiap 5.000 unit trombosit yang disumbangkan terkontaminasi. Pasien yang mendapatkan trombosit yang terkontaminasi dapat segera mengalami penyakit yang lebih serius setelah transfusi dimulai. Resiko sepsis yang berhubungan dengan transfusi trombosit adalah 1 per 12.000, angka ini lebih besar pada transfusi menggunakan konsetrat trombosit yang berasal dari beberapa donor dibandingkan dengan trombosit yang didapatkan dengan aphresis dari donor tunggal. Bakteri yang mengkontaminasi trombosit yang dapat menyebabkan kematian adalah Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Serratia marcescens, dan Staphylococcus epidermidis.

Sumber:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *