Cheara, Anugerah yang Tidak Terduga (Bayi Kuning)

Berdasarkan analisa saya sendiri menyimpulkan dari keterangan dokter dan beberapa sumber, bayi kuning karena ABO terjadi ketika; ibu bergolongan darah O memiliki antibody yang anti B atau anti A, sehingga antibody dari darah ibu menggerogoti antibody B atau A yang terdapat dalam darah bayi.

Sehingga, bayi menjadi kuning karena sel darah merah pecah sehingga bilirubin naik. Bilirubin pada anak yang baru lahir biasanya normal di bawah 5, sedangkan ambang batas di angka 20. Apabila melampaui 20, menurut keterangan dokter dapat menimbulkan resiko bayi kejang.

Bilirubin akan berkurang dengan semakin kuat nya fungsi hati bayi dan dengan dikeluarkan melalui feses atau urin. Jika bilirubin tinggi, bayi diberi ASI yang banyak dan terapi sinar apabila diperlukan.

Bilirubin bayi Cheara sehari setelah lahir diketahui di atas 10 angka yang cukup drastis untuk bayi yang baru lahir. Sore itu juga, bayi Cheara diberikan terapi sinar dengan single blue light, namun bilirubin keesokan harinya menjadi 13

Dulu, Aqilah didapati kuning dua hari setelah lahir, itu pun selisih kenaikannya antara 0,1 – 1. Sedangkan pada bayi Cheara selisih kenaikan bilirubinnya sangat cepat sampai dengan 6 sehingga bayi Cheara segera diambil alih oleh tim dokter perina ruang seruni RSAB Harapan Kita.

Tim dokter pun segera menerapkan terapi sinar dengan triple blue light, lagi – lagi berbeda dengan Aqilah yg hanya menggunakan double blue light.

Satu hari bayi Cheara dibawah triple blue light, bilirubin nya turun sampai dengan angka 12, perkembangan yang cukup baik. Sehari kemudian diketahui bilirubin sudah 9. Pada saat itu, Tim dokter tidak menyarankan bayi Cheara untuk dibawa pulang karena harus diobservasi 1×24 jam lagi tanpa blue light. Kami pun menyetujui mengingat kejadian Aqilah yang harus kembali disinar setelah beberapa hari dibawa pulang.

Pada dasar nya apabila bilirubin bayi sudah turun di bawah 10, bayi sudah boleh dibawa pulang. Selanjutnya di rumah, bayi dijemur selama beberapa menit antara pukul 7 – 9 pagi di bawah matahari dan memenuhi ASI sesuai kebutuhan bayi.

Sebelumnya, ini kami terapkan kepada Aqilah, bahkan setiap hari selama satu bulan penuh pasca terapi sinar, Aqilah kami jemur. Hingga pada pemeriksaan ke dokter setelahnya, dokter terkejut mendapati kulit aqilah yang menjadi eksotis. Ya namanya orang tua, yang penting bayi kami sehat.

Setelah satu hari, bayi Cheara kembali menunjukkan gejala kuning. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah, bilirubin kembali naik menjadi 15. Kasihan sekali bayi kecil kami yang dalam satu hari sekali harus diambil darah, namun ini semua demi kebaikan bayi Cheara, dan kami yakin bayi Cheara kuat.

Di hari selanjutnya, bayi Cheara membaik, bilirubin menjadi 12. Tim dokter mencoba melakukan observasi dengan mengurangi terapi menjadi double blue light saja. Setelah dua hari, hasil bilirubin membaik menjadi 10. Kemudian bayi Cheara diobservasi tanpa menggunakan blue light lagi. Namun satu hari setelahnya, hasil darah menunjukkan kenaikan bilirubin hingga 17.

Sejak saat itu tim dokter memutuskan untuk melakukan transfuse tukar. Transfusi tukar dilakukan dengan darah golongan O titer rendah yang tersedia di PMI. Apabila tidak tersedia, kami harus mencari pendonor. Dan selama darah belum didapat, bayi Cheara tetap diterapi sinar.

Ini hal baru lagi bagi kami, bayi Cheara harus ditranfusi tukar dengan darah lengkap (WB, Whole Blood) yang bergolongan darah O dan memiliki titer rendah. Golongan darah O titer rendah ini sangat sulit di cari, apalagi di bulan puasa yang jumlah pendonor biasanya berkurang di PMI.

Jadi menurut keterangan dokter, transfuse tukar pada bayi Cheara merupakan proses penukaran golongan darah, yang semula bergolongan darah B menjadi golongan darah O.

Sehingga setelah dilakukan transfusi, bayi Cheara akan memiliki golongan darah O selama kurang lebih 2 bulan, sampai nanti perlahan golongan darah kembali seperti semula menjadi golongan darah B. Untuk itu diperlukan golongan darah O dengan titer rendah agar tidak inkompatibiliti terhadap golongan darah B pada saat transfusi tukar.

Kami sampai dengan sekarang masih bertanya dengan kriteria golongan darah O titer rendah. Informasi yang kami dapat dari PMI, golongan darah O titer rendah banyak didapati pada pendonor yang pertama kali, atau belum pernah donor darah.

Namun, tidak menutup kemungkinan pada pendonor yang jarang, semakin sering seseorang donor, semakin kecil kemungkinan golongan darah O titer rendah didapatkan. Menurut dokter, kemungkinan besar darah O dengan titer rendah bisa saja didapatkan dari pendonor golongan darah O yang ada di keluarga pihak ayah si bayi.

Berdasarkan hitungan logika saya, golongan darah O dengan titer rendah merupakan golongan darah yang tidak mengandung anti terhadap golongan darah A maupun B. Karena dominan di keluarga saya, golongan darah adalah B, apabila di keluarga saya terdapat golongan darah O, kesimpulan saya, kemungkinan besar golongan darah O tersebut merupakan titer rendah karena tidak memiliki anti terhadap golongan darah B.

Namun, keluarga saya tidak ada yang golongan darah O dan sedang berkumpul di Palembang untuk memberikan dorongan kepada nenek saya yang juga sedang memperjuangkan hidup dari pendarahan pada penyakit diabetes yang sudah menggerogoti kakinya dan sedang membutuhkan donor darah golongan B. Mohon maaf nek, cucumu tidak dapat mendampingi pada saat ini, mohon doa untuk kesembuhan bayi Cheara, aamiin.

Golongan darah O titer rendah memiliki masa kadaluarsa 3×24 jam setelah didonorkan, jadi apabila tidak digunakan sampai dengan tiga hari maka titer nya sudah tidak rendah lagi. Dalam proses pencariannya, setiap pendonor harus mendonorkan darah terlebih dahulu. Kemudian, kantong darah harus melalui proses screening untuk diketahui darah mana yg cocok dengan kriteria titer rendah yang dimaksud.

Kendala kami di sini, kami harus mencari pendonor dengan golongan darah O sebanyak-banyak nya, untuk mendapatkan golongan darah O titer rendah sebanyak 2 kantong darah. Dengar-dengar dari petugas PMI pada saat itu, kemungkinan darah O titer rendah adalah 1 dari 20 pendonor.

Tanggal 3 Juli 2015, kami segera mencari keluarga dan kerabat yang memiliki golongan darah O, meminta kesediaanya mendonorkan darahnya. Keluarga kami juga mencari sukarelawan dengan memposting melalui media social. Setelah beberapa jam, dari 14 orang pendonor, kami mendapatkan satu kantong dan masih membutuhkan satu kantong lagi.

Tanggal 4 Juli 2015, kami kembali mencari pendonor yang bersedia berbaik hati mendonorkan darah untuk bayi Cheara. Sampai dengan sore hari, dari 12 pendonor, kami tidak mendapat satu kantong pun yang cocok. Petugas PMI selanjutnya memberitahukan ke salah satu pendonor kami bahwa sebaiknya pendonor adalah laki-laki, dan itu menjadi catatan kami.

Keluarga dan kerabat kami terus memposting perihal kebutuhan golongan darah O titer rendah. Kami bersyukur sampai dengan bayi Cheara dibawa pulang, banyak sekali respon dari pendonor yang baik hati ingin menyumbangkan darahnya untuk bayi Cheara. Mereka mendapatkan informasi dari postingan tersebut. Semoga Allah Swt membalas kebaikan, perhatian dan bantuan bapak/ ibu sekalian.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *