Cheara, Anugerah yang Tidak Terduga (Bayi Kuning)

Cheara Qinaia Adriani, putri kedua kami. Lahir di RSAB Harapan Kita Jakarta pada hari rabu tanggal 24 Juni 2015 Pukul 08.50 wib dengan berat 3195 gr dan panjang 49 cm. Bayi Cheara adalah bayi yang kuat dan penuh kejutan. Sejak awal kehamilan, Cheara merupakan anugerah yangtidak terduga.

Setelah kelahiran putri pertama kami, Aqilah Tatiana Adriani, pada 25 Oktober 2011 yang lalu, kami memilih spiral untuk mewujudkan keluarga berencana. Di ulang tahun Aqilah yang ketiga, tahun 2014, kami merencanakan program kehamilan untuk mendapatkan anak laki-laki.

Belum sempat kami ke dokter untuk melepas spiral, istri saya ‘telat’ dua minggu dan positif hamil berdasarkan testpack. Entah apa yg kami rasa, kami merasa antara bahagia dan khawatir.

Kami bahagia atas kehamilan tersebut namun khawatir karena istri saya masih menggunakan spiral.

Pada saat itu, kami sedang berlibur ke suatu kota dengan Aqilah dan orang tua kami, kami langsung menuju ke dokter terdekat untuk memeriksakan kehamilan istri saya. Dokter yang kami temui membenarkan kehamilan istri saya dengan posisi spiral yang masih terpasang dan itu hal biasa yang tidak berbahaya walaupun jarang. Menurut dokter, spiral akan keluar dengan sendirinya pada saat lahiran.

Istri saya sangat khawatir spiral dapat mengganggu janin. Saya sangat mengerti bagaimana istri saya, kekhawatiran istri saya yang berlebihan tidak baik untuk nya mengandung sampai dengan sembilan bulan ke depan. Kami memutuskan untuk melepaskan spiral dengan segala resiko.

Akan tetapi, dokter di sana berpendapat melepaskan spiral dapat membahayakan janin. Berbekal konsultasi via telpon dengan dokter di Jakarta, istri saya langsung berangkat untuk menemui dokter di sana. Spiral dilepas setelah melalui beberapa pemeriksaan tanpa menganggu janin sedikit pun.

Kehamilan kali ini berbeda dengan sebelumnya, kehamilan kali ini tidak terencana. Di Jakarta, istri saya diminta untuk melakukan pemeriksaan darah untuk TORCH (toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II)). Berdasarkan hasil lab, istri saya mengatakan bahwa IgM (Immunoglobulin M) equivalent.

Hal tersebut disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi sebelum kehamilan. Sehingga, istri saya dilarang makan makanan yang instan dan tidak matang, serta diberi spyramycin oleh dokter untuk mengurangi resiko infeksi pada janin.

Dikehamilan ini juga, istri saya mengalami mual yang hebat. Istri saya sempat dirawat beberapa hari pada trimester pertama di RS di kota kami tinggal, karena tidak ada asupan makanan yang bisa masuk.

Sudah dua tahun kami tinggal di kota Padang. Dengan segala pertimbangan, pada kehamilan minggu ke-28 istri saya dan Aqilah berangkat ke Jakarta. Kami merencanakan lahiran di sana karena lebih dekat dengan keluarga, walaupun saya harus jauh dari mereka.

Di Jakarta, minggu ke-32 kehamilan, istri saya mengeluhkan adanya rembesan air ketuban. Melalui telepon, saya pandu istri saya ke RS Swasta dekat domisili KK, harap-harap cemas kami dapat menggunakan BPJS. Di RS Swasta itu istri saya diminta langsung masuk ke ruang persalinan.

Setelah diyakini bahwa benar itu air ketuban, dokter berencana melakukan observasi dan mengambil tindakan medis operasi sc apabila diperlukan, dengan kata lain calon bayi akan dilahirkan premature.

Sebelum dilakukan tindakan, mama mertua saya melengkapi persyaratan untuk BPJS. Namun, pihak RS menyampaikan mereka kekurangan perlengkapan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) apabila calon bayi dilahirkan premature di sana.

Mama mertua dan tante saya bergegas menuju ke RSAB Harapan Kita, di sana istri saya ditangani oleh dokter dan diobservasi selama 1×24 jam. Beberapa hari dirawat, kehamilan istri saya dapat dipertahankan sampai dengan waktunya. Kami yakin calon bayi ini kuat dan istri saya harus istirahat total di rumah selama menantikan hari kelahiran yang diprediksi sekitar tanggal 25 Juni 2015.

Pada siang hari tanggal 23 Juni 2015, istri saya kembali mengeluhkan kontraksi. Saya pun berangkat dari Padang untuk SIAGA menantikan hari H. Sesampai di rumah tante saya, istri saya merasakan gejala yang tidak biasa, gerak calon bayi dirasa kurang. Kami segera merujuk ke Unit Gawat Darurat RSAB Harapan Kita malam hari itu juga.

Sesampainya di sana, istri saya langsung diobservasi oleh dokter jaga. Pagi harinya, Menimbang hasil observasi selama beberapa jam, dokter yang juga sebelumnya merawat istri saya menyampaikan bahwa akan dilakukan tindakan medis operasi sc karena memang sudah waktunya dan mengingat rekam medis istri saya di minggu ke-32 sebelumnya.

Sekitar pukul tujuh, istri saya dibawa ke ruang persalinan. Saya, Aqilah dan keluarga menunggu di ruang tunggu, dan pukul 08.50 wib lahirlah putri kecil kami Cheara Qinaia Adriani.

Bayi Cheara diobservasi di ruang transit sambil menunggu istri saya sadar pasca operasi sc. Setelah saya mengumandangkan adzan dan qomat di telinga bayi Cheara, saya langsung bertanya kepada bidan yang merawat, apa golongan darah bayi Cheara. Bidan jaga mengatakan bahwa golongan darah baru terbentuk dan dapat diketahui 1×24 jam kemudian.

Kami sudah tidak asing lagi dengan bilirubin tinggi yang dikarenakan perbedaan golongan darah ABO. Sebelumnya Aqilah pernah mengalami hal serupa, Aqilah dirawat selama dua minggu di bawah blue light. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, begitu bayi Cheara sudah bisa di bawa ke ruangan, Istri saya langsung memberikan ASI sebanyak-banyak nya untuk mengurangi resiko bayi kuning karena bilirubin tinggi.

Produksi ASI istri saya banyak dan sudah keluar ketika bayi Cheara mulai disusui. Kami optimis bayi Cheara tidak akan kekurangan asupan. Lain dengan Aqilah, ASI baru keluar hari ketiga pasca lahiran. Setelah pemeriksaan golongan darah, bayi Cheara diketahui memiliki golongan darah B, sama dengan ayahnya. Kami pun mulai khawatir, dan benar keesokannya, bayi Cheara ditindaklanjuti oleh dokter.

Kasus bayi kuning, bilirubin tinggi karena ABO, seperti yang kami ketahui, itu terjadi karena terdapat perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi. Kasus ini sangat rentan terjadi kepada ibu yang bergolongan darah O dan ayah yang bergolongan darah A, B atau AB. Mohon maaf apabila salah, selama di dalam kandungan janin menyatu dengan ibu. Bilirubin tinggi diakibatkan oleh darah ibu yang tersisa di dalam darah bayi pasca kelahiran.

Dalam hal ibu dengan golongan darah O, menurut wikipedia, individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sedangkan anak golongan darah B, lagi-lagi menurut wikipedia, Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya.

Menurut klinikanakonline.com, bilirubin tinggi merupakan salah satu tanda hemolitik desease yang disebabkan oleh ABO Incompatibility (dalam artian kami, golongan darah tidak cocok). Hemolytic Disease disebabkan oleh Incompatibilitas antigen yang menyebabkan hemolisis sebagian dari RBC (sel darah merah). Hati tidak mampu untuk mengkonjugasikan dan mengeksresikan kelebihan bilirubin dari hemolysis.

Menurut en.wikipedia.org, Penyebab ABO hemolytic disease of the newborn antara lain; Some mothers may be sensitized by fetal-maternal transfusion of ABO incompatible red blood and produce immune IgG antibodies against the antigen they do not have and their baby does. For example, when a mother of genotype OO (blood group O) carries a fetus of genotype AO (blood group A) she may produce IgG anti-A antibodies. The father shall either have blood group A, with genotype more rarely, have blood group AB, with genotype AB.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *