2 Tantangan Utama UDD PMI Pusat

JAKARTA – DonorDarah.info | Bulan Oktober kemarin Blood4LifeID mengajak Kepala Bidang Pembinaan Kualitas UDD (Unit Donor Darah) PMI Pusat, dr. Robby Nur Aditya M.Si. untuk LIVE Instagram menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar donor-darah dari penonton dan followers IG @Blood4LifeID.

Dokter Robby ini pernah juga membuat buku bersama kak Fitri Rachman yang berjudul “Question & Answer Donor Darah”, dan diterbitkan oleh Gramedia ditahun 2013 lalu. Mungkin bukunya masih bisa dicari di marketplace online, kalau kamu tertarik unuk membeli bukunya.

Sedikit cerita tentang dr. Robby.
dr. Robby adalah lulusan Universitas Gajah Mada ditahun 2004, Angkatan 97 Fakultas Kedokteran UGM. Lalu bergabung dengan PMI Kota Yogyakarta tahun 2005, dan migrasi ke Jakarta di UDD PMI Pusat setahun berikutnya sampai saat ini.

Keputusan untuk mengabdi di PMI, salah satu alasannya karena sebelumnya pernah terlibat dalam misi kemanusiaan saat ada bencana Stunami Aceh 2004 sebagai Relawan yang juga dibantu juga oleh PMI. dr. Robby juga beberapa kali juga terlibat dalam misi kemanuasiaan yang lain juga bersama PMI. Dengan pendidikan dan minat yang sesuai dengan kebutuhan PMI, akhirnya dr. Robby menjadi bagian dari PMI hampir 2 dekade ini.

Jejaring yang luas dengan relawan-relawan diluar Indonesia dan termasuk berkenalan dengan orang-orang dari lembaga-lembaga sosial asing juga memperkuat dr. Robby untuk bergabung dengan PMI.

Menjadi Kepala Bidang Pembinaan Kualitas UDD PMI Pusat, tentunya dr. Robby banyak mengetahui kondisi yang dihadapi saat ini oleh UDD PMI. Ada dua tantangan utama yang masih diusahakan untuk diselesaikan oleh PMI.

Tantangan Pertama,
memenuhi Standard WHO untuk kantong darah yang dikumpulkan dalam setiap tahunnya. WHO memiliki standart setiap negara, minimal mengumpulkan kantong darah sejumlah 2% dari populasi penduduk dinegara itu.

Sedangkan di Indonesia belum mencapai target itu, ditambah saat ini masih dalam masa Pandemi.

Berdasarkan hasil SP2020 yang berakhir September 2020 terdapat 270.203.917 jiwa penduduk Indonesia (Sumber: dukcapil.kemendagri.go.id), yang berarti kalau diambil 2% nya, PMI dalam tahun itu harus menyadap darah sekitar 5.404.078 kali. Dari data yang diperoleh dari dr. Robby, ditahun tahun 2020 lalu PMI berhasil mengumpulkan sekitar 2,9 Juta kantong darah. 2,9 Juta kantong darah ini diolah menjadi 4,5jt kantong produk darah (PRC, Trombosit, dan Plasma), ada yang dipisah komponen darahnya.

Dari data tahun 2020 ini bisa dilihat, Indonesia masih kekurangan sekitar 900 ribuan kantong darah kalau berdasarkan kantong produk darahnya. Tetapi kalau berdasar jumlah kantong/pendonor, Indonesia masih kekurangan sebanyak 2,5 juta kantong darah.

Perlu diingat, 2020 adalah awal pandemi Covid-19 dimulai. Tahun 2019 menurut dr. Robby, PMI berhasil mengumpulkan 3,4 juta kantong darah yang diolah menjadi 4,9 juta kantong produk darah. Jumlah pendonor darah sangat banyak menurun.

Coba diperhatikan, 2% ini adalah angka minimal dari jumlah penduduk.
Yang berarti jumlah populasi pendonor darah di Indonesia tidak sampai 2%, kalau lihat data tahun 2020 yang hanya terpenuhi sekitar 54% nya saja dari 2% itu. Perlu diingat juga kalau pendonor bisa donor rutin setiap 2 bulan sekali, yang berarti dalam setahun bisa sampai 6 kali.

Anggap saja rata-rata pendonor dalam satu tahun, donor darah sebanyak 2 kali. Berarti populasi pendonor darah di tahun 2020 itu hanya sekitar 0,5% dari Populasi di Indonesia. Sangat amat sedikit sekali, dan menjadi tantangan yang sangat perlu bekerjasama dengan berbagai pihak untuk memenuhi standard WHO ini.

Tantangan kedua,
Menyamakan Mutu Kualitas Produk Darah yang dihasilkan mulai dari Sumatera sampai Papua. Tantangan ini tidak hanya dipengaruhi oleh alat-alat yang dimiliki oleh masing-masing UDD PMI, tetapi juga sangat bergantung oleh SDM yang menggunakan alatnya.

Mulai dari Screening awal pendonor darah yang sehat, sampai darah itu diberikan kepada keluarga pasien untuk di transfusikan ke pasien yang membutuhkan.

Darah yang diberikan kepada Pasien ini dianggap sebagai obat, dan diawasi oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

Karena darah yang sehat sampai saat ini hanya dapat diperoleh dari pendonor darah yan Sehat, maka PMI sangat berharap dalam pengolahan darah ini dilakukan dengan standard yang baik dan sama disemua UDD PMI.

Kedua tantangan ini saling terkait, dan sampai saat ini masih terus diupayakan oleh PMI. Perlu diingat juga, Indonesia ini sangat luas dan penduduknya juga menyebar dibanyak pulau.

Apa yang dapat kita lakukan?
Jika kamu memenuhi syarat untuk Donor Darah, tolong usahakan untuk rutin donor darah dan ajak orang-orang disekitar untuk donor darah bersama. #YukDonorBareng.

Jika kamu ternyata susah / belum bisa memenuhi syarat donor-darah, kamu bisa ngajakin dan/atau nemenin mereka untuk donor darah. Itu akan sangat membantu sekali.

Kamu punya pertanyaan seputar donor darah?
Obrolan dengan dr. Robby yang lebih lengkap, bisa kamu tonton di Video Instagram @Blood4LifeID  atau klik disini. Obrolan sekaligus tanya jawab seputar donor darah dalam program “Nge-LIVE bareng Blood for Life” yang disupport oleh Paxel.co buat ngirim Paketmu Sehari Sampai.

Oh iya,
Potongan tanya-jawab dengan dr. Robby ini juga ada di tiktok.doktanyadok.com kamu bisa pilih pertanyaan-pertanyaan yang kamu butuh jawabannya.

Ferdian Kelana
Follow me
Latest posts by Ferdian Kelana (see all)

FerdianKelana

Ketua Umum Blood4LifeID periode 2021-2023 Educational Board Games Designer & Founder Demeira Nusantara (Board Games Studio) www.demeira.com | Follow @DemeiraPlay (IG/FB/Tw) Inisiator Mainloka Indonesia (SDGs Board Games Movement) www.mainloka.com | Follow @mainloka (IG/FB/Tw) Volunteer Blood for Life Indonesia www.Blood4Life.ID | Follow @Blood4LifeID (IG/FB/Tw) -- STIFIn Lisensi Promotor --- Visit: www.FerdianKelana.com

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.