Mendeteksi Leukemia, bagaimana caranya?

LEUKEMIA-01Secara umum diagnosis penyakit leukemia (kanker darah) dapat dipastikan dengan beberapa

pemerikasaan, diantaranya :

  1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik untuk jenis ALL yaitu ditemukan splenomegali (86%), hepatomegali, limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis, dan perdarahan retina. Pada penderita AML ditemukan hipertrofi gusi yang mudah berdarah. Kadang-kadang ada gangguan penglihatan yang disebabkan adanya perdarahan fundus oculi. Pada penderita leukemia jenis CLL ditemukan hepatosplenomegali dan limfadenopati. Anemia, gejala-gejala hipermetabolisme (penurunan berat badan, berkeringat) menunjukkan penyakitnya sudah berlanjut. Pada CGL/CML hampir selalu ditemukan splenomegali, yaitu pada 90% kasus. Selain itu Juga didapatkan nyeri tekan pada tulang dada dan hepatomegali. Kadang-kadang terdapat purpura, perdarahan retina, panas, pembesaran kelenjar getah bening dan kadang-kadang priapismus.Dilakukan oleh dokter dengan memerika pembengkakan nodus-nodus getah bening, limpa dan hati.

2. Tes darah

Darah di ambil dari bagian jari atau cuping telinga, untuk mendeteksi jumlah eritrosit, leukosit, dan trombosit. Dalam keadaan normal, sel yang belum terbentuk (sel-sel naif) seharusnya tidak keluar pembuluh darah. Pada penderita leukemia, sumsum tulang penderita tidak dapat membedakan antara sel-sel naif dan yang normal. Maka sewaktu di tes darah, sel sel darah naif dapat terlihat di hasilnya. tes darah dilakukan untuk menghitung jumlah setiap jenis sel darah yang berbeda dan melihat apakah mereka berada dalam batas normal. Dalam AML, tingkat sel darah merah mungkin rendah, menyebabkan anemia, tingkat-tingkat platelet mungkin rendah, menyebabkan perdarahan dan memar, dan tingkat sel darah putih mungkin rendah, menyebabkan infeksi. Laboratorium memeriksa tingkat sel-sel darah. Leukemia ditandai dengan jumlah sel darah putih yang tinggi dan trombosit yang rendah.

3. Biopsy

Pengambilan sampel jaringan atau cairan dengan cara disedot lewat jarum. Biasanya cara ini dilakukan dengan bius lokal (hanya area sekitar jarum). Bisa dilakukan secara langsung atau dibantu dengan radiologi seperti CT scan atau USG sebagai panduan untuk membuat jarum mencapai massa atau lokasi yang diinginkan. Dokter mengangkat beberapa sumsum tulang dari tulang pinggul atau tulang besar lainnya. Lalu patologis akan memeriksa sampel dibawah mikroskop. Pengangkatan jaringan untuk mencari sel- sel kanker disebut biopsy. Biopsy adalah satu-satunya cara akurat untuk mendiagnosa leukemia. Ada 2 cara dokter memperoleh sumsum tulang :

  • Bone marrow aspiration (penyedotan sumsum tulang menggunakan sebuah jarum untuk mengangkat contoh sumsum tulang)
  • Bone marrow biopsy (biopsy sumsum tulang) dokter menggunakan jarum tebal untuk mengangkat sepotong kecil dari tulang dan sumsum belakang.

Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut ditemukan keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), terdapat perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic gap). Jumlah blast minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum tulang. Pada penderita CLL ditemukan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil yaitu lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95% pasien CLL disebabkan oleh peningkatan limfosit B. Sedangkan pada penderita CGL/AML ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah megakariosit dan aktivitas granulopoeisis. Jumlah granulosit lebih dari 30.000/mm3.

4. Cytogenetic

Analisis sitogenik menghasilkan banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan leukemia. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan struktur termasuk translokasi (penyusunan kembali), delesi, inversi dan insersi. Pada kondisi ini, dua kromosom atau lebih mengubah bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal. Pemeriksaan ini juga memerlukan pemompaan sekitar 2ml sumsum tulang untuk memahami sifat sel kankernya dan kromosomnya. Umumnya hasil pengobatan pasien leukemia yang memiliki kelainan PH kromosom tidak akan semaksimal dengan pasien penderita leukemia tanpa kelainan PH kromosom. Laboran meilihat kromosom dari sel darah tepi, sumsum tulang dan nodus getah bening. Pemeriksaan sitogenetik dianjurkan (direkomendasikan) pada kasus ALL. Perubahan yang ditemukan pada ALL adalah perubahan numerik dan struktural. Kelainan kromosom numerik pada ALL dapat berupa low hyperdiploidy (47–50), high atau massive hyperdiploidy (> 50), hypodiploidy (≤ 46), pseudodiploidy (jumlah kromosom normal, tetapi dengan perubahan struktural yang terkait), juga gain atau loss kromosom tunggal sebagai perubahan kariotipik yang soliter (Budiman & Maimun, 2007).

5. Spinal tap

Dokter mengangkat beberapa cairan cerebrospinal (cairan yang mengisi ruang di sekitar otak dan sumsum tulang belakang). Menggunakan jarum panjang dan kecil untuk mengangkat cairan. Prosedur ini memakan waktu 30 menit dan dilakukan pembiusan lokal. Pasien harus berbaring untuk beberapa jam setelahnya untuk mempertahankannya agar tidak sakit kepala.

Sumber :

  • Simanjorang, C. 2012. Perbedaan ketahanan hidup 5 tahun pasien leukemia limfoblastik akut dan leukemia mieloblastik akut di rumah sakit kanker dharmais Jakarta tahun 1997-2008. Thesis. Universitas Indonesia, Depok.
  • Budiman & Maimun. 2007. LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT PADA DEWASA DENGAN FENOTIP BILINEAGE (LIMFOID-B DAN T) Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 13, No. 2,: 72-76.

hits 2795 times!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *